Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 Desember 2013
Wanita ini pakai perut hamil palsu agar dapat tempat duduk Manusia macam ni pun ada
March 1 2013 catatan idahsalam
Agar mendapatkan tempat duduk di dalam kenderaan awam wanita ini menggunakan perut hamil palsu namun aksinya ketahuan dan membuat wanita ini malu.
Cuba bayangkan ketika kamu naik alat transportasi umum yang sedang penuh pasti kamu akan kesulitan untuk mencari tepat duduk dan jika ada ibu hamil yang tidak dapat tempat duduk pasti ada orang yang memberikan tempat duduknya untuk ibu hamil kerana kasihan melihat ibu hamil harus berdiri.
Nah sepertinya hal ini dimanfaatkan oleh seorang wanita di China bernama Zhang, dia menggunakan perut hamil palsu yang terbuat dari Silikon agar dia boleh mendapatkan tempat duduk di di dalam keretapi bawah tanah.
Namun sial menimpanya.Perut palsu yang digunakan Zhang ketika berada di dalam keretapi bawah tanah terjatuh, membuat wanita ini menjadi bahan perbualan bulan-bulanan para penumpang keretapi.
Kerana merasa malu dengan perut hamil palsunya yang terjatuh sepertinya Zhang akan menuntut pihak penjual perut hamil palsu tersebut agar membayar ganti rugi atas produk yang dibelinya. Zhang membeli perut hamil palsu dari silikon ini dengan harga (Rp 500 ribu). Namun komplain atas tudingan bahan yang jelek itu pun ditolak.
Para pengguna internet yang mengetahui aksi Zhang banyak yang berkomentar negatif dan mencemoh dirinya.
Aku tidak percaya dia bertindak seperti itu untuk dapat tempat duduk,” kritik seorang netter. “Lihatlah sekarang siapa yang kualitinya lebih jelek,” imbuh lainnya.
sumber: palingseru Senin, 16 Desember 2013
18 kepala manusia disita di lapangan terbang
Rabu, 16 Januari 2013
Airport OHare di Chicago temukan 18 potongan kepala (Foto: AP)
CHICAGO - Otoriti Lapangan Terbang Internasional Chicago, Amerika Syarikat (AS) menemukan kargo yang mengejutkankan, berupa potongan kepala yang dibekukan. Potongan kepala tersebut terdeteksi oleh sinar x dari pesawat yang tiba di Internasional OHare Airport.
Setelah diselidiki potongan kepala tersebut digunakan untuk kepentingan penelitian perubatan di Itali dan dikembalikan ke Illinois untuk dikremasi. Penemuan ini terjadi ketika adanya permasalahan dari dokumen yang menyertai kargo tesebut.
Tetapi pada umumnya, pengiriman kargo semacam ini sudah biasa terjadi. Potongan kepala biasa beredar melalui pesawat dan truk pengirim.
"Minggu lalu kami mengirim delapan potongan kepala dan belum dibalsam. Potongan tersebut adalah pesanan dari Rush University Medical Center," ujar Wakil Presiden Asosiasi Anatomi Illinois Paul Dudek, seperti dikutip Associated Press, Rabu (16/1/2013).
Selama ini, lembaga yang dipimpin Dudek memang biasa menghantar jasad dan bahagian tubuh ke uviversiti perubatan untuk kepentingan pelatihan. Menurut Dudek, pihak mengirim hingga 450 jasad dan bahagian tubuh ke beberapa universiti tiap tahunnya.
Potongan kepala itu pada umumnya biasa digunakan untuk pelatihan medis bidang gigi, ophtamologi dan sistem saraf, dimana mereka melakukan penelitian untuk penyakit Alzheimer. Selain itu, jasad dan potongan tubuh manusia yang mereka kirim, biasanya digunakan untuk mahasiswa kedoktoran melakukan praktik bedah atau rekonstruksi wajah akibat korban kecelakaan.
Sebahagian besar dari jasad dan potongan tubuh itu didapat dari mereka yang mendermakan tubuhnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bila mereka meninggal. Ada juga dari masyarakat yang mendermakan jasad-jasad itu kerana tidak mampu melakukan pemakaman.
Sekira 18 potongan kepala yang ditemukan ini awalnya dikirim dari Illinois ke sebuah fasiliti penelitian medis di Rom , Itali . Potongan kepala itu kemudian dikembalikan ke Chicago untuk dihancurkan, sebagai bahagian dari perjanjian pengiriman tersebut.(faj)okezone.com
Setelah diselidiki potongan kepala tersebut digunakan untuk kepentingan penelitian perubatan di Itali dan dikembalikan ke Illinois untuk dikremasi. Penemuan ini terjadi ketika adanya permasalahan dari dokumen yang menyertai kargo tesebut.
Tetapi pada umumnya, pengiriman kargo semacam ini sudah biasa terjadi. Potongan kepala biasa beredar melalui pesawat dan truk pengirim.
"Minggu lalu kami mengirim delapan potongan kepala dan belum dibalsam. Potongan tersebut adalah pesanan dari Rush University Medical Center," ujar Wakil Presiden Asosiasi Anatomi Illinois Paul Dudek, seperti dikutip Associated Press, Rabu (16/1/2013).
Selama ini, lembaga yang dipimpin Dudek memang biasa menghantar jasad dan bahagian tubuh ke uviversiti perubatan untuk kepentingan pelatihan. Menurut Dudek, pihak mengirim hingga 450 jasad dan bahagian tubuh ke beberapa universiti tiap tahunnya.
Potongan kepala itu pada umumnya biasa digunakan untuk pelatihan medis bidang gigi, ophtamologi dan sistem saraf, dimana mereka melakukan penelitian untuk penyakit Alzheimer. Selain itu, jasad dan potongan tubuh manusia yang mereka kirim, biasanya digunakan untuk mahasiswa kedoktoran melakukan praktik bedah atau rekonstruksi wajah akibat korban kecelakaan.
Sebahagian besar dari jasad dan potongan tubuh itu didapat dari mereka yang mendermakan tubuhnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bila mereka meninggal. Ada juga dari masyarakat yang mendermakan jasad-jasad itu kerana tidak mampu melakukan pemakaman.
Sekira 18 potongan kepala yang ditemukan ini awalnya dikirim dari Illinois ke sebuah fasiliti penelitian medis di Rom , Itali . Potongan kepala itu kemudian dikembalikan ke Chicago untuk dihancurkan, sebagai bahagian dari perjanjian pengiriman tersebut.(faj)okezone.com
Jumat, 29 November 2013
Beberapa Alasan Manusia Enggan untuk Berubah
Alasan Mengapa manusia enggan berubah yang berhasil diidentifikasi oleh John C. Maxwell
Change is not made without inconvenience, even from worse to better
Richard Hooker
Change is not made without inconvenience, even from worse to better
Richard Hooker
1. Perubahan itu bukan datang dari orang tersebut
Kebanyakan sikap kita terhadap perubahan lebih ditentukan oleh "Apakah saya yang memeloporinya" atau "Orang lain yang memeloporinya".
John C. Maxwell
2. Gangguan Terhadap Rutinitas
Pertama-tama kita membentuk habit. Tapi kemudian habit akan membentuk kita. Untuk berubah kita harus punya kemampuan belajar dua hal sekaligus, satu, belajar membuang kebiasaan kebiasaan lama (To Unlearn) dan dua, mengadopsi atau belajar (to learn) tentang hal-hal yang baru.
3. Perubahan Menimbulkan Ketakutan-ketakutan terhadap Sesuatu yang Baru
Kebanyakan kita lebih familier dengan masalah-masalah lama ketimbang solusi-solusi baru. Ketika segala sesuatu berubah, memasuki dunia baru dapat diibaratkan bagai masuk hutan yang gelap tanpa petunjuk jalan, peta dan kompas. Bahkan disana tak ada pernghuni sama sekali. Untuk menghadapi perubahan, adakalanya Anda wajib meruntuhkan seluruh bnagunan lama yang sudah ada disana. Bukan sekedar menempelkan bangunan-bangunan baru di sekitar gedung lama.
4. Tujuan Perubahan Tidak Jelas
Ketika suatu keputusan dibuat, semakin jauh seorang karyawan mendengarnya dari pengambil keputusan maka semakin besar pula keenganan untuk menerimanya. Perubahan selalu melibatkan visi, yang artinya "ada sesuatu yang dapat dilihat seseorang", sementara yang lainnya belum tentu mampu melihatnya. Tugas Anda adalah membuat agar apa yang Anda lihat itu dapat juga dilihat dengan jelas oleh orang-orang Anda.
"Ngapain sih yang sudah bagus-bagus dan enak kok diubah lagi?" Orang-orang yang bergumam demikian biasanya belum bisa melihat apa yang Anda lihat. Mungkin mereka melihatnya, tetapi masih samar-samar, dan cara melihat atau perspektifnya tidak sama.
Untuk membuat mereka jelas maka idealnya semua orang harus menerima informasi dari Tangan Pertama. Dengan begitu, mereka lebih familiar dan lebih nyaman. Selalu saja terdapat perbedaan "rasa" melihat dari tangan pertama dengan melihat dari tangan kedua atau ketiga. Maka usahakanlah memberikan "First hand Information" kepada mereka yang Anda angap penting dalam perubahan ini.
5. Perubahan Menimbulkan Rasa Takut Kegagalan
Banyak orang yang memilih untuk sekedar bermain agar "jangan sampai kehilangan" (Play to not-lose) daripada "bermain untuk menang" (Play to win). Kedua sikap ini tentu berbeda. Orang-orang yang masuk dalam kategori pertama cenderung menghindari resiko. Mereka ibaratnya menjaga anaknya dengan penuh hati-hati saat sedang belajar naik sepeda. Mereka tak memperbolehkan anaknya jatuh dari sepeda meski jatuh itu akan membuatnya lebih berhati-hati. Kalau sekolah, prinsipnya adalah "yang penting lulus saja" atau "yang penting tidak drop out". Orang-orang ini berbeda dengan kelompok kedua yang cenderung lebh berani dalam menghadapi kegagalan. Bagi mereka "kegagalan adalah Ibu dari Penemuan". Dengan kegagalan mereka menjadi lebih berani menghadapi hidup.
6. Pengorbanan yang Diberikan Terlalu Besar
"Pengorbanan" sering kali bukan merupakan cerminan dari sesuatu yang terjadi sesungguhnya, melainkan cerminan dari apa yang dipikirkan seseorang. Dengan kata lain, persepsi terhadap perubahanlah yang membentuk pandangan-pandangan seseorang. Manusia pada dasarnya enggan menerima suatu perubahan manakala ia mempunyai persepsi bahwa pengorbanan yang harus diberikan lebih besar daripada manfaat yang akan diterimanya.
Manusia selalu menimbang-nimbang hubungan antara manfaat/mudarat, keuntungan/kerugian personal yang akan dialami, dan tentu saja manfaat/kerugian organisasi/bangsanya. Untuk mendorong perubahan dibutuhkan keyakinan bahwa manfaat yang akan diterima lebih besar daripada pengorbanan-pengorbanan yang harus diberikan.
7. Sudah Puas dengan Kondisi Sekarang
Suatu ketika manusia akan mengalami atau memasuki zona kenyamanan (Comfort Zone) dan memeluk erat-erat selimut kenyamanan (security blanket)-nya. Hampir setiap kanak-kanak punya selimut tersebut. Tak ada cara lain untuk mengubah manusia kecuali membuatnya sadar dengan ia sendiri yang mengubahnya. Dalam pekerjaan, bisnis, atau pemerintahan, sebetulnya sikap manusia sama saja. Kebanyakan kita lebih memilih untuk mati daripada berubah. Kita biarkan semua berjalan seperti sebelumnya, walaupun kita sudah menuju pada jurang kehancuran. Orang-orang dewasa suatu ketika juga akan memasuki zona kenyamanan itu dan memeluk erat-erat selimut rasa amannya. Mereka bahkan enggan melepaskannya. Selama manusia sudah merasa puas dan nyaman, perubahan akan sulit diwujudkan.
8. Pikiran-pikiran Negatif
Mereka yang berpikiran negatif akan menghadapi kekecewaan di masa depannya. Perubahan tentu saja akan sulit dilakukan selama orang-orang punya pikiran negatif. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu mencari argumentasi bahwa perubahan yang dilakukan salah dan menyimpang. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu menciptakan halangan-halangan dan tentu saja dapat Anda temui dimanapun Anda berada. Tapi hukum alam mengatakan, mereka yang tidak mau berubah akan menemui kesulitannya sendiri.
9. Para Pengikut Tak Punya Respek Pada Pemimpinnya
Pemimpin bisa gagal melakukan perubahan kalau pengikut-pengikutnya kurang respek. Tanpa Integritas, seorang pemimpin tak akan dituruti, kata-katanya tak akan bertuah.
10. Kecemasan Seorang Atasan
Kecemasan bukan hanya ada di bawah, melainkan juga di atas. Banyak kegagalan organisasi yang juga disebabkan oleh persoalan di line atas, yaitu atasan-atasan yang tidak kompak, saling menyalahkan dan cemas terhadap perubahan yang telah mereka canangkan sendiri. Mereka ingin berubah, tetapi tidak mau menerima akibat-akibat negatifnya, seperti kritik pedas, demo karyawan, surat kaleng, salah arah, kehilangan tunjangan-tunjangan, atau kehilangan jabatan. Mereka kadang menganggap kritik sebagai serangan terhadap hidup pribadinya, bukan sebagai cambuk untuk perbaikan.
11. Perubahan Bisa Berarti Kehilangan Sesuatu
Dalam setiap perubahan, orang selalu menimbang-nimbang apa yang bakal terjadi pada hidup pribadinya. Setidaknya ada tiga kelompok yang berbeda dalam menerima akibatnya...
(1). Mereka yang dirugikan
(2). Mereka yang tidak banyak terpengaruh dan
(3). Mereka yang bakal diuntungkan
Mereka yang merasa akan menjadi korban atau harus lebih banyak berkorban jelas akan sangat merasa diperlakukan tidak adil, dan tentu saja menghambat perubahan. Maka, sekecil apapun, cobalah menghindari perlakuan-perlakuan kurang adil dalam perubahan. Setiap pihak harus diupayakan menerima efek perubahan dengan porsi yang sama.
Kebanyakan sikap kita terhadap perubahan lebih ditentukan oleh "Apakah saya yang memeloporinya" atau "Orang lain yang memeloporinya".
John C. Maxwell
2. Gangguan Terhadap Rutinitas
Pertama-tama kita membentuk habit. Tapi kemudian habit akan membentuk kita. Untuk berubah kita harus punya kemampuan belajar dua hal sekaligus, satu, belajar membuang kebiasaan kebiasaan lama (To Unlearn) dan dua, mengadopsi atau belajar (to learn) tentang hal-hal yang baru.
3. Perubahan Menimbulkan Ketakutan-ketakutan terhadap Sesuatu yang Baru
Kebanyakan kita lebih familier dengan masalah-masalah lama ketimbang solusi-solusi baru. Ketika segala sesuatu berubah, memasuki dunia baru dapat diibaratkan bagai masuk hutan yang gelap tanpa petunjuk jalan, peta dan kompas. Bahkan disana tak ada pernghuni sama sekali. Untuk menghadapi perubahan, adakalanya Anda wajib meruntuhkan seluruh bnagunan lama yang sudah ada disana. Bukan sekedar menempelkan bangunan-bangunan baru di sekitar gedung lama.
4. Tujuan Perubahan Tidak Jelas
Ketika suatu keputusan dibuat, semakin jauh seorang karyawan mendengarnya dari pengambil keputusan maka semakin besar pula keenganan untuk menerimanya. Perubahan selalu melibatkan visi, yang artinya "ada sesuatu yang dapat dilihat seseorang", sementara yang lainnya belum tentu mampu melihatnya. Tugas Anda adalah membuat agar apa yang Anda lihat itu dapat juga dilihat dengan jelas oleh orang-orang Anda.
"Ngapain sih yang sudah bagus-bagus dan enak kok diubah lagi?" Orang-orang yang bergumam demikian biasanya belum bisa melihat apa yang Anda lihat. Mungkin mereka melihatnya, tetapi masih samar-samar, dan cara melihat atau perspektifnya tidak sama.
Untuk membuat mereka jelas maka idealnya semua orang harus menerima informasi dari Tangan Pertama. Dengan begitu, mereka lebih familiar dan lebih nyaman. Selalu saja terdapat perbedaan "rasa" melihat dari tangan pertama dengan melihat dari tangan kedua atau ketiga. Maka usahakanlah memberikan "First hand Information" kepada mereka yang Anda angap penting dalam perubahan ini.
5. Perubahan Menimbulkan Rasa Takut Kegagalan
Banyak orang yang memilih untuk sekedar bermain agar "jangan sampai kehilangan" (Play to not-lose) daripada "bermain untuk menang" (Play to win). Kedua sikap ini tentu berbeda. Orang-orang yang masuk dalam kategori pertama cenderung menghindari resiko. Mereka ibaratnya menjaga anaknya dengan penuh hati-hati saat sedang belajar naik sepeda. Mereka tak memperbolehkan anaknya jatuh dari sepeda meski jatuh itu akan membuatnya lebih berhati-hati. Kalau sekolah, prinsipnya adalah "yang penting lulus saja" atau "yang penting tidak drop out". Orang-orang ini berbeda dengan kelompok kedua yang cenderung lebh berani dalam menghadapi kegagalan. Bagi mereka "kegagalan adalah Ibu dari Penemuan". Dengan kegagalan mereka menjadi lebih berani menghadapi hidup.
6. Pengorbanan yang Diberikan Terlalu Besar
"Pengorbanan" sering kali bukan merupakan cerminan dari sesuatu yang terjadi sesungguhnya, melainkan cerminan dari apa yang dipikirkan seseorang. Dengan kata lain, persepsi terhadap perubahanlah yang membentuk pandangan-pandangan seseorang. Manusia pada dasarnya enggan menerima suatu perubahan manakala ia mempunyai persepsi bahwa pengorbanan yang harus diberikan lebih besar daripada manfaat yang akan diterimanya.
Manusia selalu menimbang-nimbang hubungan antara manfaat/mudarat, keuntungan/kerugian personal yang akan dialami, dan tentu saja manfaat/kerugian organisasi/bangsanya. Untuk mendorong perubahan dibutuhkan keyakinan bahwa manfaat yang akan diterima lebih besar daripada pengorbanan-pengorbanan yang harus diberikan.
7. Sudah Puas dengan Kondisi Sekarang
Suatu ketika manusia akan mengalami atau memasuki zona kenyamanan (Comfort Zone) dan memeluk erat-erat selimut kenyamanan (security blanket)-nya. Hampir setiap kanak-kanak punya selimut tersebut. Tak ada cara lain untuk mengubah manusia kecuali membuatnya sadar dengan ia sendiri yang mengubahnya. Dalam pekerjaan, bisnis, atau pemerintahan, sebetulnya sikap manusia sama saja. Kebanyakan kita lebih memilih untuk mati daripada berubah. Kita biarkan semua berjalan seperti sebelumnya, walaupun kita sudah menuju pada jurang kehancuran. Orang-orang dewasa suatu ketika juga akan memasuki zona kenyamanan itu dan memeluk erat-erat selimut rasa amannya. Mereka bahkan enggan melepaskannya. Selama manusia sudah merasa puas dan nyaman, perubahan akan sulit diwujudkan.
8. Pikiran-pikiran Negatif
Mereka yang berpikiran negatif akan menghadapi kekecewaan di masa depannya. Perubahan tentu saja akan sulit dilakukan selama orang-orang punya pikiran negatif. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu mencari argumentasi bahwa perubahan yang dilakukan salah dan menyimpang. Orang-orang yang berpikiran negatif akan selalu menciptakan halangan-halangan dan tentu saja dapat Anda temui dimanapun Anda berada. Tapi hukum alam mengatakan, mereka yang tidak mau berubah akan menemui kesulitannya sendiri.
9. Para Pengikut Tak Punya Respek Pada Pemimpinnya
Pemimpin bisa gagal melakukan perubahan kalau pengikut-pengikutnya kurang respek. Tanpa Integritas, seorang pemimpin tak akan dituruti, kata-katanya tak akan bertuah.
10. Kecemasan Seorang Atasan
Kecemasan bukan hanya ada di bawah, melainkan juga di atas. Banyak kegagalan organisasi yang juga disebabkan oleh persoalan di line atas, yaitu atasan-atasan yang tidak kompak, saling menyalahkan dan cemas terhadap perubahan yang telah mereka canangkan sendiri. Mereka ingin berubah, tetapi tidak mau menerima akibat-akibat negatifnya, seperti kritik pedas, demo karyawan, surat kaleng, salah arah, kehilangan tunjangan-tunjangan, atau kehilangan jabatan. Mereka kadang menganggap kritik sebagai serangan terhadap hidup pribadinya, bukan sebagai cambuk untuk perbaikan.
11. Perubahan Bisa Berarti Kehilangan Sesuatu
Dalam setiap perubahan, orang selalu menimbang-nimbang apa yang bakal terjadi pada hidup pribadinya. Setidaknya ada tiga kelompok yang berbeda dalam menerima akibatnya...
(1). Mereka yang dirugikan
(2). Mereka yang tidak banyak terpengaruh dan
(3). Mereka yang bakal diuntungkan
Mereka yang merasa akan menjadi korban atau harus lebih banyak berkorban jelas akan sangat merasa diperlakukan tidak adil, dan tentu saja menghambat perubahan. Maka, sekecil apapun, cobalah menghindari perlakuan-perlakuan kurang adil dalam perubahan. Setiap pihak harus diupayakan menerima efek perubahan dengan porsi yang sama.
http://kotakhitamdunia.blogspot.com/2011/09/beberapa-alasan-manusia-enggan-untuk.html
Langganan:
Postingan (Atom)